Minggu, 17 Januari 2010

Siapa Kira, Siapa Sangka?

Saya duduk dikitchen sebuah Cafe tempat saya bekerja. Menikmati Indomie rebus yang kalo kata Pak Bondan “Pokok’e maknyus”, yang kalo kata saya “dasar gigi sialan, dasar dokter gigi kurang ajar, seenaknya narik kawat gigi sampe segininya, makan indomie pun caranya langsung telan”.

Saya duduk bersama beberapa crew kitchen lainnya. Mereka membicarakan hal-hal yang kira2 terdengar oleh saya begini “alhamdulillah, dapet uang service juga, aing kirain teh gak bakalan dapet siah”, “iya da mana anak urang rek sakolah, nteu aya uang na. urang rek udud oge, teu aya” yayaya kira2 begitu.

Saya masih duduk dan menikmati indomie yang rasanya biasa aja: Siapa kira saya kerja karena butuh uang untuk urusan social-life, siapa sangka orang tua saya sangat jarang memberikan uang lebih untuk apapun yang disebut "senang-senang"?

Suatu saat saya berkenalan dengan librarian trainee ditempat saya bekerja:

desti

“ayu”

Perawakan desti kecil-mungil-hitam manis-imut-imut: Siapa kira dia sudah menjadi seorang sarjana dari sebuah universitas teknik di Surabaya, siapa sangka sekarang dia sedang menjalani kehidupan S-2 nya yang seluruhnya dibiayai oleh salah satu perusahaan ternama?

Di lain kesempatan saya bertemu dengan laki-laki yang hampir mirip Yesus, rambut panjang kriting gak karuan, jarang keramas dan tak jarang mengeluarkan bau yang tidak sedap, kemana-mana naik sepeda.

“agama lu apaan sih, Tep?”

“hhhmmm”

Siapa kira dia seorang mahasiswa universitas kesenian terkenal di Jakarta, siapa sangka dia sangat pintar untuk akhirnya bilang:

“Yu, tau gak gw lahir di Pluto loh!”

Suatu saat lainnya lagi, saya bertemu dengan seseorang yang memiliki penampilan menawan, cantik, dan branded:

“Emi”

“Ayu”

Siapa kira dia rela berhutang di warteg tetangga sebelah demi mengisi perutnya yang berkokok, siapa sangka dia membawa kabur uang ibu saya sebesar 5juta rupiah?

Dalam suatu ruangan terbuka seusai acara band yang sangat muram, atas perintah dan maksud Tuhan saya bertemu laki-laki bermuka tegas yang punya rambut besar nan kribo.

“lu sekolah dimana, Yu?”

“di 71, Jatiwaringin”

“wah deket tuh sama rumah Pak De gw”

Siapa kira otaknya hampir mengelupas dalam masalah perpolitikan bangsa ini, siapa sangka akhirnya saya menghabiskan masa transisi remaja ke dewasa saya bersamanya?

Saya masih makan indomie,

“Yu, tuh ada pelanggan didepan. Anak Bar pada kemana sih???”

Setelah dilayani

“Mba tolong ya ini, tolong ya itu, eh mba tolong dong, aduh kok ini pastri-nya masih dingin ya? Mba ini gimana siiihhhh?”

Buat Mba-mba yang datang pada Minggu malam :

Siapa kira pelayan anda ini adalah mahasiswi salah satu universitas ternama di Bandung, siapa sangka ip pelayan anda diatas rata-rata?

Satu suapan terakhir untuk indomie sialan,

Ah, saya tidak perduli. Dan mba-mba cantik nan elegan nan gaul dan bukan alay pasti juga tidak perduli.

Siapa kira dia seorang pembeli? Saya pikir dia yang punya Toko Setiabudi. Siapa sangka saya hanya seorang pelayan? Saya pikir saya anak dari seorang wiraswastawan (biarpun sekarang sudah jadi pengangguran).

Potluck
7.00 pm helped by computer at Library

Tidak ada komentar:

Posting Komentar