Tampilkan postingan dengan label diearies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diearies. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

Fantasi, kamu bikin saya krazi.

Saya menginginkan kamu bagaikan anjing menginginkan daging segar. Saya menatap matamu bagaiakan serigala melihat bulan. Yang ada dikepala saya kamu datang menhampiri saya, tidur disebelah saya. Awalnya kita sibuk nonton film bersama, awalnya kita hanya bercanda dan bercengkrama. Saya merasakan tangan kamu memegang tangan saya. Saya tersenyum simpul, tanda mengiyakan dan memperbolehkan serta menginginkan kamu melanjutkan. Jemari mu bermain, menyusuri setiap helai bulu halus nan lembut ditangan saya. Saya tetap tersenyum. Kamu mendekat, saya menoleh. Kamu dan saya saling menatap.

Bak serigala yang kelaparan, kamu dan saya saling melahap. Belajar bagaimana rasanya saling bertukar ludah. Daya upaya bergerak sesuai alunan dan hasrat yang menjadi pedoman.

Dikepala saya.

Dihadapan saya, kamu diam dingin menonton televisi sambil minum kopi. Kamu nyalakan rokok, sambil berkata "Ngapain sih ngeliatin saya sampai segitunya?".

Saya ke kamar mandi mencuci muka. Hampir saja saya harus mandi wajib.

Fantasi, kamu bikin saya krazi.

Minggu, 17 Januari 2010

Siapa Kira, Siapa Sangka?

Saya duduk dikitchen sebuah Cafe tempat saya bekerja. Menikmati Indomie rebus yang kalo kata Pak Bondan “Pokok’e maknyus”, yang kalo kata saya “dasar gigi sialan, dasar dokter gigi kurang ajar, seenaknya narik kawat gigi sampe segininya, makan indomie pun caranya langsung telan”.

Saya duduk bersama beberapa crew kitchen lainnya. Mereka membicarakan hal-hal yang kira2 terdengar oleh saya begini “alhamdulillah, dapet uang service juga, aing kirain teh gak bakalan dapet siah”, “iya da mana anak urang rek sakolah, nteu aya uang na. urang rek udud oge, teu aya” yayaya kira2 begitu.

Saya masih duduk dan menikmati indomie yang rasanya biasa aja: Siapa kira saya kerja karena butuh uang untuk urusan social-life, siapa sangka orang tua saya sangat jarang memberikan uang lebih untuk apapun yang disebut "senang-senang"?

Suatu saat saya berkenalan dengan librarian trainee ditempat saya bekerja:

desti

“ayu”

Perawakan desti kecil-mungil-hitam manis-imut-imut: Siapa kira dia sudah menjadi seorang sarjana dari sebuah universitas teknik di Surabaya, siapa sangka sekarang dia sedang menjalani kehidupan S-2 nya yang seluruhnya dibiayai oleh salah satu perusahaan ternama?

Di lain kesempatan saya bertemu dengan laki-laki yang hampir mirip Yesus, rambut panjang kriting gak karuan, jarang keramas dan tak jarang mengeluarkan bau yang tidak sedap, kemana-mana naik sepeda.

“agama lu apaan sih, Tep?”

“hhhmmm”

Siapa kira dia seorang mahasiswa universitas kesenian terkenal di Jakarta, siapa sangka dia sangat pintar untuk akhirnya bilang:

“Yu, tau gak gw lahir di Pluto loh!”

Suatu saat lainnya lagi, saya bertemu dengan seseorang yang memiliki penampilan menawan, cantik, dan branded:

“Emi”

“Ayu”

Siapa kira dia rela berhutang di warteg tetangga sebelah demi mengisi perutnya yang berkokok, siapa sangka dia membawa kabur uang ibu saya sebesar 5juta rupiah?

Dalam suatu ruangan terbuka seusai acara band yang sangat muram, atas perintah dan maksud Tuhan saya bertemu laki-laki bermuka tegas yang punya rambut besar nan kribo.

“lu sekolah dimana, Yu?”

“di 71, Jatiwaringin”

“wah deket tuh sama rumah Pak De gw”

Siapa kira otaknya hampir mengelupas dalam masalah perpolitikan bangsa ini, siapa sangka akhirnya saya menghabiskan masa transisi remaja ke dewasa saya bersamanya?

Saya masih makan indomie,

“Yu, tuh ada pelanggan didepan. Anak Bar pada kemana sih???”

Setelah dilayani

“Mba tolong ya ini, tolong ya itu, eh mba tolong dong, aduh kok ini pastri-nya masih dingin ya? Mba ini gimana siiihhhh?”

Buat Mba-mba yang datang pada Minggu malam :

Siapa kira pelayan anda ini adalah mahasiswi salah satu universitas ternama di Bandung, siapa sangka ip pelayan anda diatas rata-rata?

Satu suapan terakhir untuk indomie sialan,

Ah, saya tidak perduli. Dan mba-mba cantik nan elegan nan gaul dan bukan alay pasti juga tidak perduli.

Siapa kira dia seorang pembeli? Saya pikir dia yang punya Toko Setiabudi. Siapa sangka saya hanya seorang pelayan? Saya pikir saya anak dari seorang wiraswastawan (biarpun sekarang sudah jadi pengangguran).

Potluck
7.00 pm helped by computer at Library

Selasa, 24 November 2009

Kamu dan Saya

Sini duduk disebelah saya. Kamu yang selalu ada disaat-saat genting saya, atau malah selalu tidak berkomentar atas dandanan heboh saya. Kamu yang selalu tidur lebih cepat, padahal saya yang belum tidur 2 hari. Kamu yang mengelus-elus rambut saya, tapi selalu kamu yang mendengkur paling pertama. Kamu yang selalu memulai diskusi panjang, tapi selalu diakhiri dengan kata-kata yang membenarkan pernyataan awalmu. Yang akhirnya saya cuma mendengarkan, walaupun sudah saya tumpahkan semua argumentasi tingkat universitas berasaskan buku dengan validitas dunia. Kamu yang tanpa ekspresi mendengarkan lelucon saya, "tidak terlalu bikin saya ketawa" katamu. Kamu yang mendengarkan seluruh cerita saya dari preambule, pembukaan, batang tubuh, sampai penutupan dengan ekspressi lurus sibuk dengan berbagai macam hal, dan kamu tutup pidato saya "tidak terlalu penting, gak usah dipikirin". Kamu yang mendengarkan lagu-lagu tingkat Zeus dan saya yang hanya sanggup mendengarkan lagu-lagu infrasonik. Saya punya 100 argumen untuk menyerang kamu, tapi saya tahu kamu punya 500 tameng dan 1000 penjelasan untuk akhirnya membalikkan amarah saya menjadi perenungan dibawah pohon Bodhi. Tapi saya kok menikmati, tapi rasanya kok enak diomeli?
Buku-buku berat itu ada disana. Tepat disebelah tempat tidur saya. Saya larut selama berjam-jam. Memutuskan untuk meneruskan dan menunda tidur. Buku-buku alasan utama demi bisa akhirnya duduk, minum secangkir kopi dan ngobrol bersamamu. Tapi kenapa kamu yang selalu jatuh tertidur setelah membaca halaman ke-6 sebuah buku, selalu bisa lebih pintar dari saya?
Kamu makhluk apa?
Kamu manusia atau bukan?
Apa yang kamu makan?
Apa yang kamu baca?
Siapa yang kamu jadikan teman?
Aristoteles kah?
Deepak Chopra kah?
Arswendo Atmowiloto kah?
Raden Anom Prakoso kah?